Home | Feedback | Site Map | Links | FAQ | Glossary | Contact Us | Careers
  Search
IGB Total Return Index
184.6704 0.4438
IGB Clean Price Index
112.0794 0.2501
IGB Effective Yield Index
8.2928 0.0328
02 September 2014 , Jakarta
| September 2014 | |Matured | SPN12140911 (11-September-2014), SPN-S 12092014 (12-September-2014)   || IBPA Benchmark Rates (1/9/2014) :FR0071 (14.55 Yr) - Yield 8.4844% Price 104.2544% --  FR0068 (19.55 Yr) - Yield 8.6472% Price 97.4481% --  FR0069 (4.62 Yr) - Yield 7.9135% Price 99.8392% --  FR0070 (9.54 Yr) - Yield 8.1267% Price 101.6205% --  >

Ditulis Oleh :Wahyu Daniel, Sumber : Bisnis Indonesia

JAKARTA. Penyelesaian kasus gagal bayar atau default obligasi PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO) masih belum menemukan titik terang. Manajemen perusahaan tambak udang itu berencana mencari dana untuk melunasi kewajibannya. "Manajemen CPRO berniat mencari pendanaan untuk mengatasi tunggakan utangnya," kata Eddy Sugito, Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin (13/1).

Informasi ini diperoleh dalam pertemuan BEI dengan manajemen CPRO pada Selasa (12/1) lalu. Manajemen CPRO akan membicarakan rencana pencarian dana itu dengan pemegang saham CPRO dan berbagai pihak lainnya. Dengan cara itu, CPRO berharap memperoleh solusi untuk memecahkan kesulitan likuiditasnya.

Eddy bilang, CPRO juga menyampaikan upaya mereka memperbaiki kinerja keuangan. Salah satu caranya dengan menggenjot dua bisnis usahanya, yakni tambak udang serta penjualan pakan udang dan ikan.

Meski begitu, BEI masih kurang puas dengan penjelasan manajemen CPRO tersebut. Menurut Eddy, BEI telah mengirimkan surat kepada CPRO, kemarin. Isinya, BEI meminta penjelasan lebih detil tentang cara penyelesaian utang bunga obligasi CPRO. "Usaha apa saja yang akan dilakukan," imbuhnya. Selain itu, BEI juga ingin mengetahui kondisi terakhir bisnis budidaya tambak udang CPRO yang terserang virus. "Meski, mereka sudah meyakinkan bahwa serangan itu kini sudah membaik," ujar Eddy.

Sayang, manajemen CPRO masih enggan mengomentari masalah itu. Rizal Shahab, Direktur Komunikasi Korporat CPRO, tidak mau menjelaskan langkah-langkah yang tengah dilakukan perusahaannya agar terbebas dari kondisi gagal bayar. "Sampai saat ini kami belum ada informasi tambahan," katanya. Lagipula, CPRO memiliki masa perpanjangan pembayaran kupon obligasi hingga 30 hari terhitung sejak tanggal jatuh tempo.

Nasib suspend saham

Seperti diberitakan sebelumnya, CPRO tidak bisa membayar bunga obligasi sebesar US$ 17,9 juta ketika jatuh tempo 28 Desember 2009. Obligasi itu diterbitkan oleh anak usahanya, Blue Ocean Resources. Obligasi senilai US$ 325 juta ini akan jatuh tempo pada tahun 2012.

Akibatnya, Fitch Ratings menurunkan peringkat obligasi global anak usaha CPRO itu dari CC menjadi C. Begitu juga dengan Moody's Investors Service yang memangkas peringkatnya dari Caa1 menjadi Ca. Lembaga rating ini meragukan kemampuan pendanaan CPRO.

Berdasarkan laporan keuangan per September 2009, kas dan setara kas CPRO turun 20,38% dari periode sama 2008 menjadi Rp 189,94 miliar. Pendapatannya pun turun 13% menjadi Rp 5,2 triliun, dan laba bersih anjlok 80,31% jadi Rp 23,94 miliar

Ujungnya, BEI menghentikan sementara (suspend) perdagangan saham CPRO sejak 8 Januari lalu. Ketika itu, harga sahamnya Rp 60 per saham. Eddy masih enggan memastikan, kapan BEI akan mencabut suspend saham CPRO. "Meski mereka memberikan balasan tertulis, tidak serta-merta kami buka," tukas dia. Karena, BEI masih harus mengkaji penjelasan yang akan disampaikan CPRO.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer