Home | Feedback | Site Map | Links | FAQ | Glossary | Contact Us | Careers
  Search
IGB Total Return Index
184.1896 0.4688
IGB Clean Price Index
111.3486 0.3130
IGB Effective Yield Index
8.4010 0.0293
19 September 2014 , Jakarta
| September 2014 ||New Issuance | PT Jasa Marga (Persero) Tbk (16-September-2014), PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) (17-September-2014), PT Mitra Adiperkasa Tbk (19-September-2014) |Matured | SPN12140911 (11-September-2014), SPN-S 12092014 (12-September-2014)   || IBPA Benchmark Rates (18/9/2014) :FR0071 (14.50 Yr) - Yield 8.5734% Price 103.5000% --  FR0068 (19.50 Yr) - Yield 8.8378% Price 95.7322% --  FR0069 (4.58 Yr) - Yield 8.0155% Price 99.4610% --  FR0070 (9.50 Yr) - Yield 8.2946% Price 100.5199% --  >

Ditulis Oleh : Dusep Malik, Sumber : Indonesiafinancetoday.com

JAKARTA (IFT) - Pemerintah berencana menerbitkan sukuk proyek (project financing sukuk) Rp 1,5 triliun pada 2013 untuk membiayai satu proyek infrastruktur. Dedy Supriyadi Priyatna, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, mengatakan dana hasil penerbitan sukuk tersebut untuk membiayai pembangunan proyek jalur ganda Kereta Api Cirebon-Kroya sepanjang 158 kilometer.

Pembangunan jalur ganda kereta api tersebut akan dilakukan pada 2013-2014. Pemerintah akan menerbitkan sukuk infrastruktur tersebut pada 2013 dan penggunaannya akan dibagi dalam dua tahun. Penerbitan sukuk ini masih menunggu finalisasi dan persetujuan Kementerian Keuangan. "Kami juga akan mengusulkan beberapa proyek infrastruktur untuk dibiayai dengan sukuk setelah tahun 2013," ungkap Dedy, Senin.

Penetapan proyek jalur ganda kereta api Cirebon-Kroya sebagai contoh pembiayaan proyek dengan sukuk pada 2013 disebabkan batalnya rencana pembiayaan proyek melalui skema pinjaman luar negeri yang disediakan pemerintah China. Pembatalan tersebut dikarenakan tingginya biaya (overestimate) yang dibutuhkan. Penerbitan project financing sukuk diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2011 tentang Pembiayaan Proyek Melalui Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara.

Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, mengatakan penerbitan project financing sukuk yang direncanakan tahun depan dipastikan hanya untuk proyek-proyek pemerintah yang dilakukan kementerian/lembaga. Proyek-proyek tersebut adalah proyek infrastruktur besar yang telah melalui studi kelayakan yang baik dan benar.

Pemerintah pada 2013 akan memprioritaskan penerbitan sukuk infrastruktur di pasar domestik dan tidak menutup kemungkinan akan menjual sukuk di luar negeri, meskipun dapat memperkuat cadangan devisa dan membuat benchmarking obligasi Indonesia.

Pemerintah ke depan juga akan merencanakan penerbitan project financing sukuk pada beberapa proyek selain infrastruktur, seperti proyek perumahan dan proyek energi. Proyek-proyek tersebut dapat dibiayai melalui sukuk dengan syarat termasuk dalam salah satu proyek yang dananya melalui kementerian/lembaga non-badan usaha milik negara.

Rahmat mengungkapkan rencana penerbitan surat berharga syariah negara pada dasarnya dilakukan untuk mendukung terlaksananya sasaran pembangunan nasional. Selain itu, penerbitannya tidak harus melihat aspek komersial proyek. Proyek yang dibiayai ini harus benar-benar baik, sehingga tidak ada kemungkinan berhenti di tengah jalan dan nilai ekonomisnya jelas serta tidak memberikan persepsi yang jelek dari investor terhadap proyek pemerintah.

Lukita Dinarsyah Tuwo, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, mengatakan mekanisme penerbitan project financing sukuk dilakukan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2013. Penerbitan sukuk tersebut dipastikan tidak akan menambah beban utang Indonesia karena merupakan bagian rencana penerbitan sukuk yang dilakukan setiap tahun. Penerbitan ini tetap memperhitungkan rencana pemerintah menurunkan rasio utang Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto yang menjadi 22% pada 2014.

David Sumual, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), mengatakan rencana penerbitan project financing sukuk pada 2013 merupakan keputusan yang tepat, apalagi saat ini peringkat Indonesia sudah masuk layak investasi (investment grade). Penerbitan di pasar domestik diperkirakan dapat menyerap banyak dana dari berbagai lembaga dalam negeri yang ingin mengembangkan investasi.

Besarnya potensi tersebut didasarkan atas perkiraan tenor sukuk tersebut sekitar 5-10 tahun, karena pembangunan proyek infrastruktur membutuhkan waktu yang cukup panjang.  "Potensinya bagus karena pasar butuh jangka waktu yang match, banyak lembaga akan mencari tempat investasi yang menarik dan butuh jangka panjang," katanya. (*)

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer