Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
300.7822
Previous Change Change (%)
300.7414
0.0409
0.01
Jakarta, 27 Oktober 2020
| Oktober 2020 ||Maturity Update | PPGD03BCN1 (03-Oct-20), WSKT03ACN1 (06-Oct-20), SPN-S 08102020 (08-Oct-20), SPN12201009 (09-Oct-20), FIFA03BCN2 (10-Oct-20), JMPD14JM10 (12-Oct-20), SMFP04BCN2 (13-Oct-20), ADMF04ACN6 (14-Oct-20), ORI014 (15-Oct-20), WSKT01BCN2 (16-Oct-20), BTPN03BCN2 (17-Oct-20), SPN03201029 (29-Oct-20).   || IBPA Benchmark Rates (26/10/2020) :FR0080 (14.64 Yr) - Yield 7.1483% Price 103.1466% --  FR0081 (4.64 Yr) - Yield 5.4610% Price 104.1970% --  FR0082 (9.89 Yr) - Yield 6.5810% Price 103.0000% --  FR0083 (19.48 Yr) - Yield 7.2534% Price 102.5467% --  
  
Minimize

Ditulis Oleh : Hikma Dirgantara, Sumber : https://investasi.kontan.co.id/

Yield US Treasury yang rendah membuat kinerja obligasi negara Indonesia berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) atau yang dikenal dengan INDON mencatatkan kinerja ciamik dalam sembilan bulan terakhir.

Director and Chief Investment Officer Fixed Income Manulife Asset Management Ezra Nazula mengatakan, secara year to date (ytd), INDON membukukan kinerja yang mirip dengan Surat Utang Negara (SUN) berdenominasi rupiah. Dia menyebut, kedua obligasi ini memiliki pergerakan yang berkorelasi positif, yakni tumbuh sekitar 7,6%-7,8%.


“Kinerja yang positif ini karena adanya low global yield environment di mana bank sentral dunia menurunkan suku bunga ke 0% bahkan negatif untuk menopang ekonominya. Sehingga yield US Treasury 10 tahun berada di bawah 1% selama 6 bulan terakhir dan sekarang berada di level 0,77%,” kata Ezra kepada Kontan.co.id, Kamis (8/10).

Ezra menyebut, penurunan yield US Treasury membuat INDON menjadi instrumen yang menarik karena mengakibatkan penurunan yang signifikan yield INDON 10 tahun ke level 2,19%. Bahkan, Ezra melihat potensi INDON menjadi instrumen yang menarik masih akan berlanjut ke depan.

Baca Juga: Market share lebih luas jadi keunggulan obligasi berdenominasi dolar AS

“Kami melihat potensi INDON masih menarik mengingat yield yang relatif menarik dibandingkan US Treasury. Apalagi dengan kondisi makro Indonesia yang stabil. INDON akan mengikuti tren US Treasury, jadi selama US Treasury di bawah 1%, maka level INDON akan terjaga,” tambah Ezra.

Ezra juga menyebut SUN rupiah tetap jadi pilihan yang menarik. Pasalnya, investor asing yang belum banyak kembali ke pasar obligasi Indonesia diharapkan akan kembali masuk setelah volatilitas global selesai dan pemilu AS berjalan lancar. Ini karena real yield Indonesia yang masih lebar dan absolute yield Indonesia yang menarik di level 6,9% untuk seri acuan 10 tahun akan jadi daya pikat bagi investor asing.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer