Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
295.0186
Previous Change Change (%)
294.3394
0.6792
0.23
Jakarta, 13 Agustus 2020
| Agustus 2020 ||Matured | SIRNIP01 (02-Aug-20), ISAT03ACN2 (03-Aug-20), SIISAT03ACN2 (03-Aug-20), SPN-S 12082020 (12-Aug-20), SMMF01ACN3 (12-Aug-20), SPN12200814 (14-Aug-20), BEXI03ACN5 (15-Aug-20), ADMF04BCN3 (16-Aug-20), NISP02CCN2 (22-Aug-20), WOMF02BCN2 (22-Aug-20), BNGA02BCN2 (23-Aug-20), BBRI02ACN3 (24-Aug-20), ADMF03CCN2 (25-Aug-20), SMBNGA01ACN2 (31-Aug-20).   || IBPA Benchmark Rates (12/8/2020) :FR0080 (14.85 Yr) - Yield 7.1944% Price 102.7454% --  FR0081 (4.84 Yr) - Yield 5.7962% Price 102.9243% --  FR0082 (10.10 Yr) - Yield 6.7140% Price 102.0636% --  FR0083 (19.69 Yr) - Yield 7.3425% Price 101.6102% --  
  
Minimize

Ditulis Oleh : Hikma Dirgantara, Sumber : https://investasi.kontan.co.id/

Penerapan situasi new normal atau kenormalan baru telah berhasil memutar kembali roda ekonomi. Namun, belakangan kasus positif virus corona justru semakin bertambah setiap harinya seiring kenormalan baru.

Kendati demikian, Chief Investment Officer PT Insight Investments Management Genta Wira Anjalu mengingatkan bahwa kondisi pasar saat ini bergerak divergence dengan kondisi ekonomi maupun perkembangan kasus virus corona. Setelah April hingga hari ini (14/7), IHSG dan pasar obligasi rebound cukup signifikan dengan masing-masing naik 13,73% dan 7,08%.

“Massive liquidity yang dipompa The Fed menjadi faktor pemicunya, berbagai sentimen negatif seperti ketegangan AS-China, pemulihan ekonomi yang mungkin lebih lama dari ekspektasi, kenaikan jumlah kasus virus corona seolah dilupakan pasar. Banjir likuiditas membuat pergerakan pasar menjadi divergence terhadap kondisi riil ekonomi,” jelas Genta kepada Kontan.co.id, Selasa (14/7).

Baca Juga: Kinerja berpotensi pulih, simak rekomendasi untuk saham emiten retail

Ke depan, Genta lebih menjagokan pasar obligasi ketimbang pasar saham. Hal ini tidak terlepas dari krisis pandemi ini secara fundamental membuat prospek pertumbuhan cenderung turun, dan bahkan deflasi. Tapi hal ini justru baik untuk pasar obligasi karena suku bunga global akan tetap rendah di tengah banyaknya bank sentral yang menurunkan suku bunga.

“Namun, massive liquidity serta berbagai stimulus yang dilakukan bank sentral maupun pemerintah berbagai negara dapat mendorong aset finansial seperti saham untuk bergerak naik. Yang perlu dicatat adalah stimulus yang terjadi kali ini jauh lebih besar daripada tahun krisis ekonomi global pada 2008,” tambah Genta.

Dengan kondisi ini, Genta menyebut Insight pada kelas aset obligasi, berfokus pada obligasi pemerintah dengan tenor menengah (5 - 10 tahun). Sementara untuk kelas aset saham, Genta menyebut saham-saham big cap terutama pada sektor barang konsumsi, telekomunikasi dan layanan kesehatan bisa jadi pilihan yang menarik.

Baca Juga: Lonjakan kasus positif corona menekan pasar modal, begini portofolio yang ideal

Lebih lanjut, Genta memproyeksikan yield SUN bertenor 10 tahun akan berada di kisaran di 6,5%-7,0%. Sementara untuk IHSG akan mencapai level 5.400 pada akhir tahun nanti.

“ETF juga merupakan salah satu alternatif investasi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan capital gain di tengah volatilitas yang tinggi. Selain itu, juga bisa dijadikan sebagai alternatif investasi jangka panjang karena ketika ekonomi kembali pulih, secara historis biasanya saham akan bergerak lebih kencang ketimbang asset-aset lainnya seperti setelah krisis 2008 silam,” pungkas Genta.

Bagi para investor moderat, Genta merekomendasikan investor bisa menyusun portofolionya dengan meletakkan 50% pada obligasi, 30% pada saham, dan 20% pada pasar uang.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer