Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
272.8257
Previous Change Change (%)
273.2911
0.4654
0.17
Jakarta, 14 November 2019
| Oktober 19 ||Matured | SPN03191003 (03-Oct-19), SPN-S 03102019 (03-Oct-19), FIFA03ACN4 (05-Oct-19), TUFI03ACN1 (07-Oct-19), BSLT05 (08-Oct-19), SPN12191010 (10-Oct-19), SISMRA01CN2 (10-Oct-19), SMRA01CN2 (10-Oct-19), TELE01BCN2 (14-Oct-19), ORI013 (15-Oct-19), BEXI02CCN3 (16-Oct-19), SPN03191017 (17-Oct-19), ASDF03BCN2 (18-Oct-19), BFIN03BCN1 (25-Oct-19), EXCL01ACN1 (26-Oct-19), SIEXCL02ACN1 (26-Oct-19), TBIG03CN2 (28-Oct-19), SMFP04ACN6 (29-Oct-19), SPN03191031 (31-Oct-19), BNII01SBCN2 (31-Oct-19)   || IBPA Benchmark Rates (13/11/2019) :FR0077 (4.51 Yr) - Yield 6.5140% Price 106.2029% --  FR0078 (9.51 Yr) - Yield 7.0574% Price 108.1573% --  FR0079 (19.43 Yr) - Yield 7.6191% Price 107.5882% --  FR0068 (14.35 Yr) - Yield 7.4309% Price 108.2253% --  

Ditulis Oleh : Danielisa Putriadita, Sumber : https://investasi.kontan.co.id

Kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) khususnya pada tenor panjang makin menggemuk. Mengutip data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, per Juni porsi asing di seri tenor 10 tahun ke atas adalah 32%.

Namun, porsi asing di tenor panjang bertambah jadi 34% per Oktober. Perpindahan kepemilikan tersebut jadi menurunkan porsi asing di seri tenor 2-5 tahun dan 5-10 tahun.


Analis IBPA Robby Rushandie mengatakan naiknya porsi asing di tenor-tenor panjang bisa dilihat secara fundamental dan non fundamental dengan faktor pengaruh utama dari penurunan suku bunga.

Dari kacamata fundamental, asing berpindah ke tenor yang lebih panjang karena ekspektasi positif atas ekonomi makro dalam negeri meningkat. Apalagi, setelah pemerintah Joko Widodo periode ke-2 juga direspon positif oleh pelaku pasar. "Sentimen global juga mendukung karena tensi perang dagang mereda," kata Robby, Selasa (29/10).

Sementara, faktor non fundamental yang mempengaruhi asing banyak buru tenor panjang adalah karena merespon positif penurunan suku bunga global dan dalam negeri.

Robby menjelaskan pelonggaran moneter secara global mendorong penurunan yield obligasi. Kondisi ini, mendorong dana asing mencari tempat investasi dengan yield yang lebih tinggi ke negara berkembang dengan fundamental kuat seperti Indonesia.

Baca Juga: Hasil lelang sukuk capai lebih dari Rp 35 triliun


"Mungkin saja, investor asing yang baru masuk ke Indonesia, akan masuk terlebih dahulu ke tenor-tenor pendek sehingga kenapa porsi asing di tenor 1-2 tahun juga meningkat signifikan," kata Robby.

Tren penurunan suku bunga juga jadi membuat investor akan mencari yield yang lebih tinggi. "Sebagai gambaran yield wajar untuk SBN tenor 2 tahun saat ini di 6,1%, di awal tahun 2019 di level 7,3%. Level yield 7,3% tersebut saat ini setara dengan yield wajar SBN tenor 10 tahun yakni di level 7,2%," kata Robby.

Namun, tren penurunan suku bunga yang membuat yield makin tipis bisa menjadi risiko reinvestasi bagi investor obligasi. "Mereka akan sulit mencari instrumen investasi yang berikan yield sama tingginya dari portofolio obligasi yang mereka pegang dan akan jatuh tempo," kata Robby.

"Ingin stabil bisa pilih tenor pendek, tetapi jika ingin dapat capital gain besar ada di tenor menengah hingga panjang," kata Ramdhan.

Dengan ekspektasi penurunan suku bunga masih akan terjadi di tahun depan, Ahmad Mikail Zaini Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan minat asing ke seri tenor panjang masih akan terjadi hingga akhir tahun. Porsi kepemilikan asing di seri tenor panjang, Mikail proyeksikan bisa sentih 40% seperti posisi di awal tahun.

"Saat ini harga seri tenor 10-15 tahun sudah naik kencang, sementara seri tenor 20 tahun belum terlalu mahal sehingga asing sedang rajin melirik seri terpanjang," kata Mikail.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer