Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
266.7238
Previous Change Change (%)
266.7247
0.0009
0.00
Jakarta, 23 September 2019
| September 19 ||Matured | ISAT01BCN4 (02 Sep 19), SIISAT01BCN4 (02 Sep 19), SPN12190913 (13 Sep 19), FR0036 (15 Sep 19), BEXI04ACN2 (15 Sep 19), SPN03190919 (19 Sep 19), JSMR01CN2T (19 Sep 19), MAPI01BCN3 (19 Sep 19), SPN-S 20092019 (20 Sep 19), SSIA01ACN1 (22 Sep 19), FIFA02BCN4 (27 Sep 19), SMPNMP01A (27 Sep 19), SMPNMP01B (27 Sep 19), SMPNMP01A (27 Sep 19), PJAA01ACN1 (29 Sep 19), MEDC02ACN2 (30 Sep 19), BNGA02ACN4 (30 Sep 19).   || IBPA Benchmark Rates (23/9/2019) :FR0068 (14.48 Yr) - Yield 7.6672% Price 106.1227% --  FR0077 (4.65 Yr) - Yield 6.6018% Price 105.9944% --  FR0078 (9.65 Yr) - Yield 7.2329% Price 106.9599% --  FR0079 (19.57 Yr) - Yield 7.7827% Price 105.8925% --  

Ditulis Oleh : Intan Nirmala Sari, Sumber : https://investasi.kontan.co.id

Turunnya kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) awal pekan ini lebih didominasi faktor eksternal. Ditambah lagi, pada Juli lalu kepemilikan asing juga sempat bertambah cukup banyak.

Sebagai informasi, per 12 Agustus kepemilikan asing di SBN mencapai Rp 1.005,17 triliun. Angka tersebut turun sebanyak Rp 7,87 triliun dari capaian 2 Agustus 2019 yakni Rp 1.019 triliun. Kepala Riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, penurunan tersebut masih dalam kategori wajar karena tidak mencapai 10%.

Baca Juga: Ambil untung, kepemilikan asing di SBN mengempis

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto mengatakan, penurunan lebih banyak didominasi sentimen eksternal, khususnya terkait perkembangan negosiasi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China. Selain itu, kondisi pasar keuangan global juga cenderung bergejolak dan sempat membawa nilai tukar rupiah berada di atas level Rp 14.000 per dollar AS.

"Gejolak pasar tersebut, otomatis menimbulkan ketidakpastian yang cukup tinggi, sehingga kepemilikan asing sempat naik Rp 10 triliun-Rp 12 triliun," jelas Ramdhan kepada Kontan.co.id, Rabu (14/8).

Baca Juga: BEI mengajukan izin platform perdagangan eletronik tahap dua untuk efek surat utang

Ramdhan mengungkapkan, porsi kepemilikan asing saat ini berkisar 40% dan cukup aktif melakukan transaksi di pasar. Kondisi ini yang membuat porsi kepemilikan asing cepat berubah dengan keluar masuknya hot money. Alhasil, pasar cukup tertekan dengan level imbal hasil saat ini yang masih berada di kisaran 7,5%, disusul tingginya ketidakpastian dari global.

Sedangkan dari sentimen domestik, pasar masih menanti data neraca perdagangan yang menurut survei diprediksi masih akan defisit. Ditambah lagi, kondisi cadangan devisa Tanah Air juga turut menjadi perhatian. Alhasil, pergerakan rupiah juga masih akan bergejolak dan sebagian investor asing melakukan profit taking.

"Tapi peluang untuk kepemilikan asing naik masih mungkin, apalagi dengan yield kita yang termasuk paling tinggi di dunia. Didukung juga dengan suku bunga The Fed dan BI yang bakal turun, sehingga cost of fund juga bisa ikut turun," ungkapnya.

Baca Juga: Begini proyeksi ekonom terhadap neraca dagang Juli 2019

Di jangka pendek, diperkirakan kepemilikan asing di SBN bisa balik di kisaran Rp 1.015 triliun, seiring meredanya perang dagang AS. Baru-baru ini Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda penetapan kenaikan tarif impor kepada China yang semula rencananya bakal diimplementasikan September 2019.

Untuk itu, Ramdhan optimistis penurunan kepemilikan asing di SBN hanya bersifat sementara, karena bagaimanapun yield yang ditawarkan Tanah Air masih cukup tinggi, rating investment grade juga masih positif, anda pasar SUN Tanah Air juga masuk dalam kategori big hit.

Baca Juga: Lelang SUN lesu, pemerintah hanya menyerap Rp 15 triliun

Perkiraannya, hingga akhir tahun yield akan berada di kisaran 7% hingga 7,1% untuk SUN 10 tahun, mendekati US Treasury. Dengan syarat, tren suku bunga acuan masih akan turun dan bank sentral global masih menunjukkan tren dovish. Dari domestik, kondisi makro Tanah Air dan inflasi yang stabil, serta angka pertumbuhan ekonomi yang masih di kisaran 5% masih menjadi daya tarik bagi asing untuk masuk.

Meskipun peluang kepemilikan asing di SBN masih terbuka ke level Rp 1.050 triliun, namun masih dianggap sulit. Mengingat, sentimen global berada di luar kontrol dan suatu waktu bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pasar.

Ramdhan menilai, porsi ideal kepemilikan asing saat ini cukup 40%. Di sisi lain, pemerintah harus mendorong kepemilikan domestik dan menjadikan momentum turunnya kepemilikan asing di SBN sebagai momentum bagi investor asing untuk masuk.

Baca Juga: Persepsi risiko investasi Indonesia naik dalam jangka pendek

Di sisi lain, kemungkinan bagi kepemilikan asing di SBN turun di bawah Rp 1.000 triliun juga memungkinkan terjadi tahun ini. Hanya saja, Ramdhan meyakini penurunannya tidak akan terlalu dalam dan masih mendekati RP 1.000 dan itu merupakan hal yang wajar, terlebih jika perang dagang kembali memanas dan suku bunga acuan batal dipangkas.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer