Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
264.6931
Previous Change Change (%)
265.2774
0.5844
0.22
Jakarta, 24 Juli 2019
| Juli 2019 ||New Issuance| Pembangunan Jaya Ancol Tbk, PT (02 Juli 2019), Bank Maybank Indonesia Tbk, PT (03 Juli 2019), Sarana Multigriya Finansial (Persero), PT (04 Juli 2019), Bank QNB Indonesia Tbk, PT (05 Juli 2019), Bank UOB Indonesia, PT (05 Juli 2019), J Resources Asia Pasifik Tbk, PT (05 Juli 2019), Mandala Multifinance Tbk, PT (05 Juli 2019), Waskita Beton Precast Tbk, PT (05 Juli 2019), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (09 Juli 2019), Mora Telematika Indonesia, PT (09 Juli 2019) |Matured | SPN-S 03072019 (03 Juli 2019), SPN12190704 (04 Juli 2019), SPN-S 09072019 (09 Juli 2019), SPN03190710 (10 Juli 2019), SPN03190724 (24 Juli 2019), PPGD13C (01 Juli 2019), BTPN03BCN1 (01 Juli 2019), PPRO01A (01 Juli 2019), ADHI01BCN1 (03 Juli 2019), SMAR01BCN1 (03 Juli 2019), BSDE01CCN1 (04 Juli 2019), BFIN04ACN1 (06 Juli 2019), PIHC01B (08 Juli 2019), MFIN03ACN1 (10 Juli 2019), PPGD02CCN2 (11 Juli 2019), MEDC02ACN1 (15 Juli 2019), NISP03ACN1 (16 Juli 2019), IIFF01A (19 Juli 2019), SMMF01ACN1 (21 Juli 2019), ADMF03BCN4 (26 Juli 2019), SMADMF02BCN2 (26 Juli 2019).   || IBPA Benchmark Rates (23/7/2019) :FR0077 (4.82 Yr) - Yield 6.6467% Price 105.9890% --  FR0078 (9.82 Yr) - Yield 7.2387% Price 107.0000% --  FR0079 (19.74 Yr) - Yield 7.7543% Price 106.2000% --  FR0068 (14.65 Yr) - Yield 7.5871% Price 106.8792% --  

Ditulis Oleh : Danielisa Putriadita, Sumber : https://investasi.kontan.co.id

Lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN), Selasa (5/3) kembali sukses menarik peminat investor. Namun, pemerintah hanya memenangkan dua seri dari lima seri yang ditawarkan.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR), jumlah penawaran yang masuk dalam lelang SBSN kali ini mencapai Rp 23,18 triliun. Jumlah ini, lebih besar dari lelang dua pekan sebelumnya, sebesar Rp 21,33 triliun.

Pemerintah menyerap Rp 8,9 triliun dari lelang ini. Jumlah tersebut juga masih lebih besar dari penyerapan pemerintah di lelang dua pekan lalu yang sebesar Rp 8,1 triliun.

Senior VP & Head of Investment Recapital Asset Management Rio Ariansyah mengatakan minat pelaku pasar terhadap SBSN masih tinggi karena imbal hasil yang ditawarkan cukup atraktif bila dibandingkan dengan tingkat suku bunga BI 7 day reverse repo rate.

"Lelang selanjutnya masih akan ramai karena imbal hasil yang ditawarkan selalu tinggi jika dibanding negara lain," kata Rio, Selasa (5/3).

Dari lima seri yang ditawarkan dalam lelang ini, pemerintah hanya menyerap dari dua seri saja, yaitu PBS014 dan PBS019.

Seri PBS014 memiliki yield rata-rata tertimbang yang dimenangkan seebsar 7,4% dan jatuh tempo 15 Mei 2021. Seri ini mendapat penawaran yang paling banyak dari investor hingga mencapai Rp 9,86 triliun. Pemerintah menyerap sebesar Rp 7,8 triliun dari seri ini.

Rio mengatakan pemerintah paling banyak menyerap dari seri PBS014 karena minat investor juga paling banyak terhadap seri ini. "Jadi pemerintah hanya memenangkan seri yang minatnya tinggi saja," kata Rio.

Di satu sisi seri SPNS06092019 yang jatuh tempo pada 6 September 2019 juga menerima penawaran masuk paling banyak kedua, yaitu sebesar Rp 6,86 triliun.
Namun, pemerintah memutuskan tidak menyerap sepeserpun dari seri ini.

Begitupun pada seri yang lebih panjang, yaitu PBS022 yang mendapat penawaran masuk sebesar Rp 1,12 triliun dan PBS015 yang menerima penawaran masuk sebesar Rp 2,2 triliun, pemerintah tidak serap.

Pemerintah justru menyerap PBS019 sebesar Rp 1,1 triliun dari penawaran yang masuk sebesar Rp 3,11 triliun.

Rio mengatakan pemerintah tidak menyerap dari seri SPN karena pemerintah tidak ingin membayar beban bunga dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.


Selanjutnya, pemerintah juga tidak memenangkan seri PBS022 dan PBS015 karena mungkin kuota pemerintah di tenor panjang sudah besar, sehingga pemerintah berusaha mengurangi beban jatuh tempo dari seri tenor panjang yang memiliki beban kupon lebih besar.

"Mungkin banyak seri tenor panjang dari tahun lalu yang akan jatuh tempo, sehingga pemerintah lebih memilih memenangkan tenor yang medium," kata Rio.

Selain itu, Rio mengatakan pembiayan di sektor syariah mungkin kebutuhannya cenderung untuk jangka pendek hingga menengah. Oleh sebab itu, pemerintah menghindari memenangkan seri yang tenor panjang di saat kini suku bunga acuan sedang dalam level tinggi di 6%.

"Dalam jangka panjang suku bunga berpotensi turun, jadi pemerintah berusaha mengurangi beban pembayaran kupon yang lebih besar bila benar suku bunga ke depan menurun," kata Rio.

Ke depan, Rio belum bisa memastikan seperti apa kebutuhan pendanaan pemerintah dari lelang SBSN. Namun, pada lelang SUN Rio memproyeksikan pemerintah tetap akan menyerap semua seri obliagsi negara yang menjadi acuan.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer