Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
259.0978
Previous Change Change (%)
258.4759
0.6219
0.24
Jakarta, 26 Juni 2019
| Mei 2019 ||New Issuance| Waskita Karya (Persero) Tbk, PT (16 Mei 2019) |Matured | SPN-S 01052019 (01 Mei 2019), TRAC01ACN1 (07 Mei 2019), SPN-S 08052019 (08 Mei 2019), MYOR04 (09 Mei 2019), ASDF03BCN1 (11 Mei 2019), NISP02CCN1 (11 Mei 2019), SPN03190513 (13 Mei 2019), ISAT02ACN3 (13 Mei 2019), ADMF02CCN3 (14 Mei 2019), PBS013 (15 Mei 2019), BAFI02A (20 Mei 2019), PJAA01ACN2 (23 Mei 2019), BBRI01BCN3 (25 Mei 2019), SPN03190527 (27 Mei 2019), SMFP04ACN4 (28 Mei 2019), IMFI03ACN3 (28 Mei 2019).   || IBPA Benchmark Rates (25/6/2019) :FR0068 (14.73 Yr) - Yield 7.7403% Price 105.5000% --  FR0077 (4.89 Yr) - Yield 6.8654% Price 105.1449% --  FR0078 (9.90 Yr) - Yield 7.3964% Price 105.9000% --  FR0079 (19.82 Yr) - Yield 7.9682% Price 104.0000% --  

Ditulis Oleh : Dimas Andi, Sumber : https://investasi.kontan.co.id

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) akan kembali digelar pada pekan ini. Agenda tersebut menjadi sentimen tambahan bagi pasar obligasi Indonesia di tengah sejumlah sentimen lain yang beredar belakangan ini.

Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana mengungkapkan, besar kemungkinan BI akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 6%. Kendati begitu, agenda RDG BI dipastikan tetap menyedot perhatian para investor obligasi.

Para investor ingin mengetahui kebijakan bank sentral dalam menjaga nilai tukar rupiah dalam jangka pendek setelah kembali menembus ke area Rp 14.000 per dollar AS. Padahal, di awal bulan ini rupiah sempat rally di bawah level Rp 14.000 per dollar AS, sehingga berdampak positif bagi pasar obligasi domestik.

Tak hanya itu, para investor mencermati upaya jangka menengah hingga panjang BI dan pemerintah dalam menekan defisit neraca perdagangan Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca dagang Indonesia di bulan Januari mencatat defisit terbesar yakni sebesar US$ 1,16 miliar. Defisit ini merupakan yang terbesar dibandingkan periode yang sama sejak 2002.

Head of Fixed Income Fund Manager Prospera Asset Management Eric Sutedja menyampaikan, sentimen ini yakni defisit neraca dagang, justru mendapat fokus yang lebih dari para investor alih-alih RDG BI nanti.


“Sentimen RDG BI hanya berpengaruh sedikit saja, karena konsensusnya suku bunga acuan akan tetap di level sekarang,” ujarnya, Senin (18/2).

Ia melanjutkan, defisit neraca dagang yang memburuk dikhawatirkan akan membuat defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia kembali melebar dalam beberapa waktu ke depan. Ujung-ujungnya kurs rupiah yang sangat mempengaruhi pasar obligasi dalam negeri bakal sulit kembali ke area Rp 13.000 per dollar AS.

Bahkan, bukan tidak mungkin jika defisit transaksi berjalan yang terus melebar, BI terpaksa mengambil langkah untuk menaikkan suku bunga acuan demi menjaga volatilitas nilai tukar rupiah. “Tapi kenaikan tersebut tidak terjadi di RDG BI pekan ini,” imbuh Eric.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer