Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
250.2691
Previous Change Change (%)
249.7244
0.5446
0.22
Jakarta, 20 Maret 2019
| Februari 2019 ||New Issuance| Tiphone Mobile Indonesia Tbk, PT (08 Februari 2019), XL Axiata Tbk, PT (08 Februari 2019), Sarana Multigriya Finansial (Persero), PT (12 Februari 2019), Astra Sedaya Finance Tbk, PT (13 Februari 2019), Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT (19 Februari 2019), PP Properti Tbk, PT (22 Februari 2019) |Matured | BBRI01BCN2 (04 Februari 2019), SPN03190207 (07 Februari 2019), SPN-S 08022019 (08 Februari 2019), SPN12190214 (14 Februari 2019), PPGD01DCN2 (14 Februari 2019), BEXI02BCN7 (19 Februari 2019), MAPI01BCN2 (20 Februari 2019), SPN03190222 (22 Februari 2019), BFIN02CCN3 (25 Februari 2019), IMFI03ACN2 (25 Februari 2019).   || IBPA Benchmark Rates (20/3/2019) :FR0068 (15.00 Yr) - Yield 7.9935% Price 103.2959% --  FR0077 (5.16 Yr) - Yield 7.2222% Price 103.8134% --  FR0078 (10.16 Yr) - Yield 7.6779% Price 103.9678% --  FR0079 (20.08 Yr) - Yield 8.0968% Price 102.7274% --  

Ditulis Oleh : Danielisa Putriadita, Sumber ; https://investasi.kontan.co.id

Penerbitan surat utang korporasi tahun ini diproyeksikan akan menurun dari jumlah penerbitan surat utang korporasi di tahun lalu.

Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) per 17 Desember 2018 jumlah penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp 111,25 triliun. Sementara jumlah penerbitan surat utang korporasi di akhir tahun lalu mencapai Rp 166,18 triliun.

Melihat perkembangan penerbitan obligasi korporasi hingga bulan ini, Ifan Mohamad Ihsan, analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) berpandangan penerbitan obligasi korporasi tahun ini turun dibanding tahun lalu yang catatkan rekor nilai penerbitan tertinggi.

Menurut Ifan, turunnya nilai penerbitan obligasi korporasi karena meningkatnya cost of fund atau kupon yang harus dibayarkan oleh penerbit obligasi. "Cost of fund bertambah karena meningkatnya yield obligasi baik korporasi maupun negara," kata Ifan, Selasa (18/2).

Di sisa tahun ini hingga tahun depan Ifan menambahkan, masih terdapat beberapa sentimen positif yang menguntungkan emiten untuk menerbitkan surat utang. Sentimen pertama, meredanya isu perang dagang AS dan China setelah China menurunkan tarif impor otomotif AS dan kedua negara sepakat menunda menaikkan tarif impor hingga Januari 2019.

Selanjutnya, tren kenaikan suku bunga menurut Ifan sudah hampir mendekati puncak. Artinya tren kenaikan suku bunga akan segera berakhir di tahun depan.

"Sentimen positif juga datang dari prospek ekonomi yang diperkirakan masih tetap baik karena tertopang oleh terjaganya stabilitas ekonomi," kata Ifan.

Ifan memproyeksikan penerbitan obligasi korporasi di tahun depan akan cukup ramai karena ada sekitar Rp 90 triliun surat utang korporasi yang akan jatuh tempo.

Sekadar informasi sektor keuangan masih berkontribusi paling besar pada total jumlah penerbitan surat utang korporasi domestik, dengan jumlah sebesar Rp 69,39 triliun. Di posisi kedua, sektor yang juga berkontribusi besar adalah infrastruktur, utilities dan transportasi sebesar Rp 17,72 triliun. Selanjutnya di posisi ketiga sektor properti turut menyumbang cukup banyak pada total penerbitan obligasi korporasi dengan jumlah Rp 13,84 triliun.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer