Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
239.3396
Previous Change Change (%)
239.5382
0.1987
0.08
Jakarta, 10 Desember 2018
| November 2018 ||New Issuance| Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (08 November 2018), Bank CIMB Niaga Tbk, PT (15 November 2018) |Matured | SPN03181101 (01 November 2018), SPN-S 03112018 (03 November 2018), IMFI02BCN2 (06 November 2018), TAFS01BCN3 (06 November 2018), BAFI01A (08 November 2018), BIIF01ACN1 (12 November 2018), BNGA02ACN3 (12 November 2018), ASDF03ACN4 (12 November 2018), SPN12181115 (15 November 2018), BFIN03ACN3 (19 November 2018), ISAT02ACN2 (19 November 2018), SIISAT02ACN2 (19 November 2018), BNGA01CCN2 (20 November 2018), SNI18 (21 November 2018), SMII01ACN2 (25 November 2018), SPN03181129 (29 November 2018)   || IBPA Benchmark Rates (7/12/2018) :FR0063 (4.44 Yr) - Yield 7.9395% Price 91.4750% --  FR0064 (9.44 Yr) - Yield 7.9852% Price 87.8228% --  FR0065 (14.45 Yr) - Yield 8.1508% Price 87.1793% --  FR0075 (19.45 Yr) - Yield 8.3096% Price 92.2500% --  

Pekan Perdana Q4-2018, Pasar Obligasi Indonesia Melemah

Indeks return didominasi pelemahan

Pada pekan pertama Oktober, kinerja Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun sebesar –0,38%wow ke level 232,7459. Pelemahan turut dicatatkan oleh INDOBeXG-Total Return yakni sebesar –0,45%wow ke level 228,2102. Sementara itu kinerja INDOBeXC-Total Return sanggup mencatatkan kenaikan sebesar +0,04%wow ke level 254,6706. Secara tahun berjalan, indeks ICBI dan INDOBeXG-TR mencatatkan kondisi negative return yakni –4,21%ytd dan –4,99%ytd. Sedangkan INDOBeXC-TR sanggup mencatatkan positive return sebesar +0,64%ytd.  Paska penguatan di hari pertama pekan ini berkat kenaikan FFR dan BI 7-day RR yang meredakan ketidakpastian, pergerakan pasar SBN berbalik arah ke zona negatif hingga akhir pekan. Anjloknya mata uang Rupiah terhadap USD akibat indeks Dollar global yang meningkat diperkirakan menjadi penyebab utama pelemahan pasar. Kenaikan indeks Dollar tersebut dikarenakan menguatnya data ketenagakerjaan AS dan   meningkatnya permintaan terhadap mata uang USD sebagai aset bersifat safe haven. Tidak hanya itu, yield obligasi AS tenor 10-tahun yang kian menanjak ke level 3,23% (tertinggi sejak Mei 2011) turut direspon negatif pelaku pasar karena dikhawatirkan akan memicu outflow asing seiring semakin menariknya imbal hasil investasi AS.

Weekly Report, 01 - 05 Oktober 2018

Depresiasi Rupiah tekan performa pasar

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu faktor pemicu tertekannya   kinerja pasar surat utang yakni penurunan nilai Rupiah terhadap USD hingga melewati Rp15.000/US$. Bahkan di akhir pekan, Rupiah di pasar spot ditutup ke level Rp15.183/US$ atau melemah –1,88%wow. Level tersebut juga merupakan yang terburuk sejak Juli 1998.  Tekanan pada Rupiah sejalan dengan tren kenaikan indeks Dollar secara global yang meningkat sebesar +0,52%wow karena terus diburunya mata uang USD tersebut. Depresiasi Rupiah terhadap USD yang terjadi terus menerus sejak awal hingga akhir pekan semakin meningkatkan persepsi risiko investor global dan pada akhirnya berdampak pada melemahnya pasar obligasi dalam negeri.

 

Outlook pasar obligasi Indonesia pekan depan

Pada pekan kedua Oktober, pasar obligasi domestik diperkirakan bergerak sideways dengan kecenderungan negatif. Kondisi tersebut lebih didorong oleh pasar yang dibayangi oleh peningkatan ekspektasi inflasi di AS, tren kenaikan yield US Treasuries, dan tren depresiasi Rupiah terhadap USD. Dari domestik, pelaku pasar diperkirakan turut mencermati bagaimana pelaksanaan IMF-World Bank Annual Meeting yang diselenggarakan di Bali pekan ini.

 

Pergerakan imbal hasil obligasi domestik bervariasi

Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) pekan ini bergerak mixed dengan rata-rata yield seluruh tenor (1-30tahun) turun tipis sebesar –0,17bps wow. Kenaikan rata-rata yield dicatatkan oleh tenor menengah (5-7tahun yakni +13,28bps wow. Sementara rata-rata yield tenor pendek (<5tahun) dan panjang (>7tahun) turun masing-masing sebesar –0,75bps wow dan –1,82bps wow.

 

Pasar sukuk negara sanggup catat positive return mingguan

 

Berbeda dengan obligasi konvensional, kinerja sukuk pekan ini sanggup menguat yang tercermin dari meningkatnya Indonesia Government Sukuk Index-Total Return (IGSIX-TR) sebesar +0,3057poin wow ke level 212,8860 dari level 212,5803 pada penutupan perdagangan pekan sebelumnya. Pergerakan harga seri sukuk negara terpantau bervariasi. Penguatan harga dicatatkan oleh 10 seri dari 22 seri dengan rentang kenaikan +0,20bps wow hingga +91,57bps.

 

Aktivitas perdagangan catatkan penurunan volume transaksi

 

Aktivitas perdagangan obligasi pekan perdana Oktober mencatatkan penurunan dari segi volume. Rata-rata volume perdagangan harian turun –9,85%wow dari     Rp10,80tn/hari menjadi Rp9,74tn/hari. Sedangkan rata-rata frekuensi perdagangan harian naik sebesar +4,71%wow dari 603 transaksi/hari menjadi 632 transaksi/hari.

 

Pemerintah serap dana lelang diatas target indikatif

 

Pemerintah telah melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) perdana kuartal IV-2018 pada pekan ini. Pemerintah melelang 3 seri new issuance yang terdiri dari 1 seri SPN-S tenor 6-bulan (SPN-S 03042019), 1 seri SPN-S tenor 9-bulan (SPN-S 03072019) dan 1 seri PBS tenor 5-tahun (PBS019). Pemerintah juga melelang 3 seri reopening PBS dengan TTM 1,45 tahun (PBS016), TTM 13,13 tahun (PBS012), dan TTM 28,80 tahun (PBS015). Target indikatif ditetapkan sebesar Rp4,00tn.

To see more detail and complete reports on IBPA Research, please access our subscribed service:

 

 

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer