Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
229.8759
Previous Change Change (%)
229.5213
0.3546
0.15
Jakarta, 19 Oktober 2018
| Oktober 2018 ||New Issuance| - |Matured | SPN12181004 (04 Oktober 2018), SPN-S 04102018 (04 Oktober 2018), SANF01CN3 (06 Oktober 2018), PPGD03ACN1 (13 Oktober 2018), ORI012 (15 Oktober 2018), WSKT01ACN2 (16 Oktober 2018), SPN03181018 (18 Oktober 2018), FIFA03ACN2 (20 Oktober 2018), SMFP04ACN2 (23 Oktober 2018), ADMF02CCN2 (24 Oktober 2018), BTPN03ACN2 (27 Oktober 2018).   || IBPA Benchmark Rates (18/10/2018) :FR0063 (4.58 Yr) - Yield 8.3746% Price 89.7158% --  FR0064 (9.58 Yr) - Yield 8.5515% Price 84.3425% --  FR0065 (14.58 Yr) - Yield 8.7672% Price 82.5520% --  FR0075 (19.59 Yr) - Yield 8.9646% Price 86.5866% --  

Pekan Kedua September, Pasar Obligasi Dibayangi Sentimen Global

Indeks return secara komposit naik tipis

Penguatan secara terbatas mewarnai pergerakan pasar obligasi domestik pada pekan ini. Kondisi tersebut terlihat dari tipisnya kenaikan indeks return secara komposit (ICBI) sebesar +0,03%wow ke level 229,0848 dan kenaikan indeks return obligasi korporasi (INDOBeXC-TR) sebesar +0,38%wow ke level 251,6919. Sementara itu indeks return obligasi negara (INDOBeXG-TR) turun tipis sebesar –0,03%wow ke level 224,4657. Secara tahun berjalan, pasar obligasi Indonesia masih mencatatkan kinerja negatif  yakni sebesar –5,72%ytd.

 

Pasar lebih digerakkan faktor eksternal

Tekanan dari eksternal masih mendominasi pergerakan pasar obligasi domestik pekan ini. Sejak awal hingga menjelang akhir pekan, pasar dibayangi beberapa isu seperti kembali tingginya tensi perang dagang global paska AS yang berencana me-review perdagangan internasional dengan Jepang dan respon China yang meminta dukungan dari WTO untuk menjatuhkan sanksi kepada AS. Selain itu, hasil positif beragam data ekonomi AS turut menambah ekspektasi kenaikan FFR berikutnya pada akhir bulan ini. Namun demikian, pada hari terakhir perdagangan, pasar sanggup rebound dan persepsi risiko global menurun berkat rencana AS dan China yang ingin melakukan negosiasi lanjutan terhadap konflik perang tarif dagang.

Weekly Report, 10 - 14 September 2018

Aksi jual investor asing membayangi pergerakan pasar surat utang

Peningkatan risiko di pasar domestik yang lebih disebabkan oleh berbagai sentimen negatif dari global mendorong sikap risk averse investor asing dengan melepaskan kepemilikannya di pasar SBN pada pekan ini. Aliran dana asing yang keluar dari pasar SBN diperkirakan juga menjadi faktor penahan laju pasar. Berdasarkan data DJPPR   dalam sepekan terakhir (data per 13 September), investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp4,81tn dari level Rp838,21tn ke level Rp833,40tn. Bahkan jika diakumulasi sejak awal bulan September, asing telah mencatatkan net sell sebesar Rp20,37tn.

 

Outlook pasar obligasi Indonesia pekan depan

Pada pekan ketiga September, pasar diperkirakan bergerak sideways dengan tren terkoreksi. Investor masih akan terus mencermati perkembangan terkini dari isu perang dagang antara AS-China yang belum juga menemui titik temu. Pasar juga diprediksi akan dibayangi aksi wait and see terkait rilis press conference BoJ dan pidato Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) di pertengahan pekan ini. Dari domestik, concern pelaku pasar akan tertuju pada data neraca perdagangan periode Agustus yang diprediksi masih defisit. Jika hasilnya lebih buruk dari konsensus, maka dikhawatirkan akan mendorong defisit neraca transaksi berjalan yang semakin lebar dan turut menekan Rupiah.

 

Perubahan imbal hasil obligasi negara bervariasi

Pekan ini, kurva yield IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) berpola mixed. Rata-rata yield tenor 1-30tahun naik sebesar +19,30bps wow. Kenaikan tersebut dipicu oleh rata-rata yield tenor panjang (>7tahun) yang naik sebesar +27,23bps wow. Sementara itu rata-rata yield pada dua kelompok tenor lainnya  masing-masing turun sebesar: pendek (<5tahun) –6,42bps wow; dan menengah (5-7tahun) –7,22bps wow.

 

Pasar sukuk negara catat negative return mingguan

Kinerja negatif mewarnai pasar obligasi syariah negara. Indonesia Government Sukuk Indexes-Total Return (IGSIX-TR)  turun sebesar –0,32%wow ke level 209,6475. Penurunan tersebut dipicu oleh koreksi harga mayoritas kelompok seri sukuk dimana kelompok seri IFR dan PBS mencatatkan rata-rata penurunan harga masing-masing sebesar –61,91bps wow dan –79,13bps wow. Sedangkan, rata-rata harga seri SR sanggup naik sebesar +38,47bps wow. Secara year to date, IGSIX-TR masih mencatatkan negative return sebesar –3,81%ytd.

 

Marak wait and see, transaksi obligasi pekan ini menurun

 

Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder pekan ini menurun. Rata-rata volume transaksi harian turun –31,24%wow menjadi Rp9,64tn/hari dari Rp14,02tn/hari. Sementara rata-rata frekuensi hariannya turun –13,51%wow menjadi 650 kali/hari dari 752 kali/hari. Penurunan transaksi kompak terjadi pada obligasi negara dan korporasi.

 

Pemerintah melelang 7 seri, tenor pendek paling diminati investor

 

Pekan ini, pemerintah telah melaksanakan lelang Surat Berharga Negara (SBN). Terdapat 2 seri new issuance yang dilelang yakni SPN tenor 3 bulan (SPN03181213) dan tenor 1-tahun (SPN12190913). Lima seri lainnya yang dilelang adalah FR0063 (TTM 4,67tahun), FR0064 (TTM 9,68tahun), FR0065 (TTM 14,68tahun), FR0075 (TTM 19,68tahun), dan FR0076 (TTM 29,69tahun). Target indikatif ditetapkan sebesar Rp10,00tn.

To see more detail and complete reports on IBPA Research, please access our subscribed service:

 

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer