Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
229.4353
Previous Change Change (%)
229.8759
0.4406
0.19
Jakarta, 21 Oktober 2018
| Oktober 2018 ||New Issuance| - |Matured | SPN12181004 (04 Oktober 2018), SPN-S 04102018 (04 Oktober 2018), SANF01CN3 (06 Oktober 2018), PPGD03ACN1 (13 Oktober 2018), ORI012 (15 Oktober 2018), WSKT01ACN2 (16 Oktober 2018), SPN03181018 (18 Oktober 2018), FIFA03ACN2 (20 Oktober 2018), SMFP04ACN2 (23 Oktober 2018), ADMF02CCN2 (24 Oktober 2018), BTPN03ACN2 (27 Oktober 2018).   || IBPA Benchmark Rates (19/10/2018) :FR0063 (4.57 Yr) - Yield 8.4522% Price 89.4500% --  FR0064 (9.58 Yr) - Yield 8.6417% Price 83.8255% --  FR0065 (14.58 Yr) - Yield 8.8311% Price 82.1000% --  FR0075 (19.58 Yr) - Yield 8.9978% Price 86.3164% --  

Tertekan Sentimen Global, Pasar Obligasi Domestik Bearish

Pekan ketiga Maret, ICBI catat negative return

Tren penurunan mewarnai pasar obligasi Indonesia sepekan ini. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) turun sebesar –0,21% wow ke level 242,4182. Kinerja return obligasi negara (INDOBeXG-Total Return) juga turun sebesar –0,25% wow ke level 239,2435. Sementara itu hanya kinerja return obligasi korporasi (INDOBeXC-Total Return) yang sanggup menguat tipis sebesar +0,07% ke level 255,2244. Secara tahun berjalan, ICBI yang menjadi indikator return obligasi domestik secara komposit catat negative return sebesar –0,23% ytd.

 

Faktor global dorong pelemahan pasar

Ditengah kenaikan suku bunga FFR yang sesuai konsensus dan dipertahankannya BI 7-day RR rate untuk terus mendorong pemulihan ekonomi domestik, sepanjang  pekan ini pasar dihadapkan dengan beragam sentimen negatif khususnya terkait AS. Statement bernada less hawkish dari Gubernur The Fed terkait ada indikasi sinyal pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di tahun depan serta potensi perang dagang antara AS vs Tiongkok akibat “aksi balas membalas” tarif bea impor yang dapat    mengganggu stabilitas perekonomian global diperkirakan menjadi faktor utama penurunan performa pasar surat utang domestik pekan ini.

 

 

 

Weekly Report, 19 - 23 Mar 2018

Persepsi risiko investor meningkat

Meningkatnya kecemasan investor terhadap berbagai sentimen dari global mendorong peningkatan persepsi risiko investor global terhadap pasar obligasi domestik. Kondisi ini tercermin dari indikator Credit Default Swap (CDS) obligasi Indonesia pada tenor menengah (5-tahun) yang meningkat sebesar +15,97bps wow ke level 105,46bps.

 

Imbal hasil obligasi negara dan korporasi meningkat

Kurva IBPA-IGSYC (IBPA-Indonesia Government Securities Yield Curve) pekan ini berpola bearish dengan rata-rata yield seluruh tenor (1-30tahun) naik sebesar +3,99bps wow. Kenaikan rata-rata yield terbesar dicatatkan oleh tenor panjang (>7tahun) yakni +4,43bps wow, kemudian diikuti secara berturut-turut oleh tenor pendek (<5tahun)yakni +2,94bps wow dan tenor menengah (5-7tahun) yakni +1,98bps wow.

 

Return pasar sukuk negara turun

Kinerja pasar obligasi syariah bergerak negatif yang tercermin dari penurunan Indonesia Government Sukuk Index-Total Return (IGSIX-TR) pekan ini sebesar –0,2289poin wow (-0,10%wow) ke level 219,2261. Terkoreksinya seluruh harga sukuk negara dengan rentang penurunan –1,71bps wow (SR008) hingga –107,24bps wow (PBS004) memicu turunnya performa pasar sukuk negara. Secara tahun berjalan, pasar sukuk negara meraih positive return sebesar +0,59%ytd.

 

Seri FR0075 (kupon 7,50%) catat frekuensi terbanyak ditengah penurunan transaksi

Aktivitas perdagangan obligasi di pasar sekunder menurun. Pada pekan ini, rata-rata frekuensi perdagangan harian turun –12,95%wow dari 683 kali/hari menjadi 594 kali/hari. Begitu pula dengan rata-rata volume perdagangan harian yang turun sebesar –15,41%wow dari Rp14,07tn/hari menjadi Rp11,90tn/hari.

 

Target penyerapan dana lelang selama Q1-2018 telah mencapai 97,18%

 

Pemerintah kembali melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Seri yang dilelang sama seperti lelang SBSN lalu yakni: SPN-S 07092018 (TTM 0,47tahun), PBS016 (TTM 1,99tahun), PBS002 (TTM 3,83tahun), PBS017 (TTM 7,58tahun), PBS012 (TTM 13,67tahun), dan PBS004 (TTM 18,92tahun). Target indikatif yang ditetapkan pemerintah adalah sebesar Rp8,00tn.

To see more detail and complete reports on IBPA Research, please access our subscribed service:

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer