Beranda | Peta Situs | FAQ | Tautan | Kamus | Hubungi Kami | Karir
  Search
I C B I
Indonesia Composite Bond Index
247.2461
Previous Change Change (%)
247.4619
0.2158
0.09
Jakarta, 22 Januari 2018
| Januari 2018 ||New Issuance| - |Matured | SPN12180104 (04 Januari 2018), SPN-S 05012018 (05 Januari 2018), BEXI02ACN4 (07 Januari 2018), DNRK01BCN1 (09 Januari 2018), BSBR01SB (13 Januari 2018), RI0018 (17 Januari 2018), SPN03180118 (18 Januari 2018), VR0026 (25 Januari 2018).   || IBPA Benchmark Rates (22/1/2018) :FR0075 (20.32 Yr) - Yield 6.9248% Price 106.2079% --  FR0063 (5.31 Yr) - Yield 5.5773% Price 100.2077% --  FR0064 (10.32 Yr) - Yield 6.1235% Price 100.0005% --  FR0065 (15.32 Yr) - Yield 6.5959% Price 100.2650% --  

Ditulis Oleh : Olfi Fitri Hasanah, Sumber : http://investasi.kontan.co.id

Indeks obligasi atau Indonesia Composite Bond Index (ICBI), Senin (10/7), menyentuh level terendah sejak pembukaan perdagangan semester II-2017. Tren penurunan mengantarkan indeks bertengger di level 224,61 pada Senin, atau turun 1,3% dari awal Juli 2017.

Padahal, Senin (3/7), indeks sempat menyentuh level tertinggi dalam kurun waktu lima tahun terakhir, yakni di angka 227,53.

Analis Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) Roby Rushandie menilai, tren penurunan tersebut disebabkan faktor global. Antara lain, pernyataan beberapa bank sentral seperti European Central Bank (ECB), Bank of England (BoE), dan Bank of Canada yang berencana mengurangi program stimulus.

Kondisi tersebut mendorong investor berekspektasi terjadinya pengetatan likuiditas global. “Meskipun realisasi pengurangan stimulus belum dipastikan waktunya,” ujarnya, Senin (10/7).

Di samping itu, kata Roby, pasar obligasi tertekan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) selama sepekan di awal Juli. Tercatat, di pasar spot, rupiah melemah 108 poin dibanding akhir Juni lalu.

Pekan ini, aksi jual marak dilakukan oleh investor asing dengan total net sell mencapai Rp 8,46 triliun per 6 Juli, sekaligus menjadi pendorong utama koreksi harga yang melanda Surat Berharga Negara (SBN). “Sebenarnya, pasar obligasi saat ini masih minim sentimen. Sehingga investor menunggu sentimen lanjutan,” kata Roby.

Tags:
Copyright © 2009 PT Penilai Harga Efek Indonesia. All rights reserved. Disclaimer